Terjebak di gurun tandus


Aku terjebak di tengah gurun tandus, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Perjalanan yang pada mulanya lancar dan aman, tiba-tiba saja bertemu badai debu dan pasir yang beterbangan hingga membuat semua rekan seperjalanan berlarian tak tentu arah. Begitupun aku, sendirian mencari tempat untuk berlindung. Namun yang kutemui hanya lautan pasir yang membentang.

Mataku perih, tenggorokan rasa tercekik, kering. Dimana bisa kudapatkan  seteguk air pelepas dahaga. Aku kembali berlari tak tentu arah, saat cahaya matahari dengan sinarnya yang terang memantul di ujung sana, seolah pantulan mata air memanggil agar aku mendekat.
Aku kembali berlari, hingga tampak di depan sana gugusan pohon kurma. Allahu Akbar, akhirnya aku dapat melepas lelah di tengah padang tandus ini, aku seakan  menemukan oase setelah didera rasa haus dan lapar yang kian menjadi.
Bruk....
Tubuhku terjatuh tepat di depan mata air yang begitu jernih. Aku meraup air itu dengan tangan gemetar.

Air....air... alhamdulilah Ya Allah, akhirnya aku menemukannya. Benar-benar, menemukan sumber mata air di tengah gurun pasir ini.



Prabumulih, 25 November 2024




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dear Diary

Writing camp: Empat Lawang, Tebingtinggi