Postingan

KUMPULAN PUISI_Susi. ks

MAK, BESOK LIBUR? Mak, besok libur? Bukankah Emak sudah berjanji pada kami?  Mengapa selalu saja Emak mencoba ingkar! Padahal kami sudah berharap  Mak, besok libur? Masak apa kita nanti? Atau akankah kita akan  keluar menikmati pemandangan kota? Sungguh kami menanti waktu kita bisa bersantai  Mak, mengapa tatap matamu begitu sayu  Seakan tak rela jika harus meluangkan waktu bersama kami Apakah terlalu berat permintaan ini? Mak, kami mengerti isi hatimu  Sungguh, jika berat tak mengapa kali ini janji itu tak ditepati Jangan memandang dengan tatap harap seolah kami menyiksamu "Maafkan Emak ya Nak. Belum bisa luangkan waktu bersantai bersama"  "Lihatlah, beras tinggal secangkir, token listrik berbunyi nyaring memberi tanda, kuota data harus terisi agar adikmu bisa terus belajar"  Kata-katamu lembut namun menghantam tepat didadaku Menampar wajah tanpa menyentuh, sungguh begitu kurang baktiku padamu Mak, maafkan kami yang belum bisa memberi bahagia di ...
Ada yang datang kepada kita membawa rejeki, doa, dan harapan. Ada pula yang datang hanya sekedar untuk berbasa-basi. Bukankah begitu adanya kehidupan ini berjalan. Seperti yang saya alami siang ini saat sedang menunggu datangnya pembeli. Tiba-tiba datang seorang perempuan yang tidak saya kenal dengan sikap SKSD ( sok kenal sok dekat)sebagai seorang pedagang yang ramah saya pun menawarkan barang yang saya jual kepadanya.  "Hallo bestie, masih jualan ya! Berapa sekarang harganya?"  "Kalo sekarang harganya Rp 12.000,-. Berapa bungkus, Mbak?"  "Nanti saja, kita ngobrol dulu lah sebentar. Coba awal jualan dulu berapa harganya per bungkus?"  "Kalau dulu pertama saya gantiin mamak jualan sih harganya masih murah. Jaman itu lupa syaa tahun berapa saya jual satu bungkus masih harga Rp 5.500,- ."  "Wow, itu sudah berapa tahun ya!"  "Harga segitu mah saat harga barang belum melonjak tinggi seperti saat ini, Mbak. Jangan dibandingkan sekian pu...

AKU RINDU

Gambar
Aku rindu, bolehkah ku eja kata itu untukmu? Menghitung waktu yang lama berlalu, tanpa sapa dan candamu. Aku kehilangan semua hal tentangmu. Apakah hanya aku yang merindu? Aku tahu rasa ini salah,tak layak ada dan bersemayam dalam dada. Namun haruskah disalahkan jika sudah terlanjur nyaman! Ingin ku hapus namamu di relung hati, ingin kuhapus wajahmu dalam galeri ponselku namun ada rasa berat untuk melakukan itu semua. Masih sampai hari ini, kau yang terbaik bagiku. Mungkin ini terdengar konyol, bagaimana bisa menyimpan rasa sementara interaksi antara kita sangatlah jarang. Sebucin itu aku padamu. Andai waktu bisa di ulang, aku ingin mengulang semua kebersamaan kita. Akan jujur mengungkapkan rasa di hati agar kau pun tahu bahwa aku mengagumi dirimu. Rasa kagum yang perlahan-lahan menjadi cinta. Ya, aku menyayangimu. Menyayangi dirimu dalam diamku. *** Flashback "Assalamualaikum," sapamu mengejutkan aku yang sedang asyik berselancar dengan ponsel di tangan. "Waalaikumsalam...

Dear Diary

Gambar
#tantangannovemberflpprabumulih day 26 Kata kunci 26. Ayunan Dear Diary Bagaimana kabarmu disana? Adakah masih mengingatku sebagai sosok yang selalu ada dalam setiap langkahmu? Atau semua kenangan itu hanya milikku semata! Hari ini aku kembali ke tempat itu, tempat dimana kita pernah merajut cerita, sebuah kisah yang akan selalu ku simpan dalam bilik hati ini. Tentangmu, tentang kita yang kini telah usai. Ayunan tali itu masih ada, tempat dimana kita biasa menyanyikan lagu tentang cinta yang abadi. Tapi kini ayunan itu tidak lagi kuat seperti dulu, tali-tali pengikatnya mulai rapuh tergerus usia, seperti pohon tempatnya bergantung yang kian menua. Begitupun diriku, ayunan langkah kaki ini tak lagi segesit dulu. Ternyata waktu begitu cepatnya berlalu. Rumah kayu dipinggiran sungai dengan air yang mengalir tenang, pepohonan rindang dengan ayunan tali yang menggantung dibawahnya. Semua hanya tinggal kenangan saja. Seperti kisah kita yang tidak pernah sampai pada kata bahagia. Hanya te...

Terjebak di gurun tandus

Aku terjebak di tengah gurun tandus, kepanasan, kehausan, dan kelaparan. Perjalanan yang pada mulanya lancar dan aman, tiba-tiba saja bertemu badai debu dan pasir yang beterbangan hingga membuat semua rekan seperjalanan berlarian tak tentu arah. Begitupun aku, sendirian mencari tempat untuk berlindung. Namun yang kutemui hanya lautan pasir yang membentang. Mataku perih, tenggorokan rasa tercekik, kering. Dimana bisa kudapatkan  seteguk air pelepas dahaga. Aku kembali berlari tak tentu arah, saat cahaya matahari dengan sinarnya yang terang memantul di ujung sana, seolah pantulan mata air memanggil agar aku mendekat. Aku kembali berlari, hingga tampak di depan sana gugusan pohon kurma. Allahu Akbar, akhirnya aku dapat melepas lelah di tengah padang tandus ini, aku seakan  menemukan oase setelah didera rasa haus dan lapar yang kian menjadi. Bruk.... Tubuhku terjatuh tepat di depan mata air yang begitu jernih. Aku meraup air itu dengan tangan gemetar. Air....air... alhamduli...