Pendakian Pertama
Catatan perjalanan ku
Rasanya exited banget, saat mendengar rekan-rekan di FLP Sumsel membahas agenda pendakian. Penasaran, seperti apa sih medan yang akan kami lalui nanti. Secara, ini kali pertama aku bisa ikut agenda seperti ini.
Semua rasa campur aduk jadi satu, penasaran, takut, dan was-was. Semua rasa menggumpal dalam dada. Bagaimana tidak penasaran, seumur-umur aku ada di dunia ini. Belum pernah sekalipun merasakan yang namanya mendaki gunung, kalau sekedar hiking biasa sih sering, tapi itu terasa kurang menantang.
Apalagi setelah membaca novel-novel yang berkisah tentang serunya sebuah pendakian, track-track sulit yang dilewati. Semua yang kubaca itu seperti memacu adrenalin, ikut deg-degan dengan akhir sebuah pendakian. Makanya, sempat kecewa saat mendengar kalau planning mendaki bakal dibatalkan dari agenda.
Ternyata, alhamdulillah semua itu hanya prank belaka. Rencana awal untuk mendaki tetap dilanjutkan walau sempat ragu karena malam sebelum keberangkatan hujan turun dengan derasnya. Menurut teman-teman yang sudah sering ikut pendakian. Medan yang akan dilalui akan berlipat kesulitannya bila hujan turun. Waah, bikin hati makin jumpalitan, nih.
Siap mental, siap stamina, siapkan semangat agar perjalanan ini berjalan mulus.
Bismillah.
Ini pendakian pertama semoga tidak menjadi pendakian terakhir untukku. Menjelajah rimba belantara, berjuang di jalan terjal yang licin karena hujan, semua nyaris membuat semangat kendur dan nyaris mundur. Butuh perjuangan keras untuk dapat melewati rasa takut, ketakutan yang terkadang membuat diri menjadi lemah.
Memberi sugesti dalam diri sendiri, melihat semangat rekan-rekan yang lain. Membuatku kembali bersemangat disaat mental mulai melemah karena lelah yang mulai menghampiri. Detak jantung pun seakan mewakili rasa lelah ini. Berdebar kencang dan tak beraturan. Rasanya mau pingsan, guys. Kaki pun sudah berasa lemes banget. Berat buat di ajak melangkah 🤣🤣.
Waah, ini beneran uji nyali. Bicara sendiri menguatkan hati, "ayo sebentar lagi pasti nyampe". Terus tak putus memberi sugesti dalam hati meyakinkan diri bahwa aku pasti mampu untuk sampai dan berdiri di atas sana.
Bayangkan, di usia yang tak lagi muda, menginjak angka 44 tahun. Masih saja aku bersemangat mengikuti perjalanan ini.
Alhamdulillah, alhamdulillah ya Allah. Akhirnya, aku bisa sampai dengan selamat di Bukit Reban Kucing, yang berlokasi di desa pasemah air keruh (paiker). Sungguh usaha, perjuangan, dan tekad yang kuat tidak akan mengkhianati. Alhamdulillah.
Memandang alam sekitar dari ketinggian 650 mdpl, sungguh sebuah prestasi yang sangat luar biasa untukku. Di usia yang tak lagi muda ini, masih diberi kesempatan menikmati karunia Illahi Robbi. Masih diberi nafas, nikmat sehat, dan rejeki untuk melihat luasnya dunia dari tempat yang tinggi ini.
Terima kasih Tuhan, atas segala nikmat yang telah Engkau beri.
Pendakian
Empat Lawang, Tebingtinggi
18 Oktober 2021
Komentar
Posting Komentar