AKU RINDU

Aku rindu, bolehkah ku eja kata itu untukmu? Menghitung waktu yang lama berlalu, tanpa sapa dan candamu. Aku kehilangan semua hal tentangmu. Apakah hanya aku yang merindu?

Aku tahu rasa ini salah,tak layak ada dan bersemayam dalam dada. Namun haruskah disalahkan jika sudah terlanjur nyaman! Ingin ku hapus namamu di relung hati, ingin kuhapus wajahmu dalam galeri ponselku namun ada rasa berat untuk melakukan itu semua. Masih sampai hari ini, kau yang terbaik bagiku.

Mungkin ini terdengar konyol, bagaimana bisa menyimpan rasa sementara interaksi antara kita sangatlah jarang. Sebucin itu aku padamu. Andai waktu bisa di ulang, aku ingin mengulang semua kebersamaan kita. Akan jujur mengungkapkan rasa di hati agar kau pun tahu bahwa aku mengagumi dirimu. Rasa kagum yang perlahan-lahan menjadi cinta. Ya, aku menyayangimu. Menyayangi dirimu dalam diamku.

***
Flashback

"Assalamualaikum," sapamu mengejutkan aku yang sedang asyik berselancar dengan ponsel di tangan.

"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabku sambil menatap wajahmu bingung.

Bingung karena kedatangan dirimu seperti jailangkung yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja. Itu kebiasaan yang sepertinya sering kau lakukan. 

Aku tak perlu mempersilakan dirimu untuk duduk karena kau sudah duduk tanpa permisi. Diam, tak ada sepatah kata pun yang kau ucap. Ya, begitulah dirimu. Seperti petugas absensi yang datang untuk mengabsen. Bila aku tak bertanya maka kau tak akan mengeluarkan sepatah katapun.

" Ada apa? Tumben, mampir kesini!" Tanyaku setelah lama terdiam. Jujur aku grogi kalau hanya duduk diam saja saat bersamamu. Makanya setiap ketemu aku selalu berusaha mencari topik pembicaraan agar tidak terlihat kaku dan grogi.

Lalu mengalirlah ceritamu,  seseorang yang kau dekati ternyata membuatmu kecewa. Bahkan sepertinya kau mulai enggan jika nantinya akan bertemu dengan dia. Sepanjang dirimu bercerita, sepanjang itulah nafas yang kuhela agar hati ini melapangkan rasa sakit yang menghampiri. Sebodoh itu diriku hingga membiarkan sedikit demi sedikit hati  tergores luka.

"Kamu beneran suka sama dia, apa mau aku bantu agar kalian bisa dekat lagi?" Tanyaku sambil tak lupa memasang senyum. Mottoku tetaplah tersenyum walau hati penuh luka.

"Tidak usah, percuma diperjuangkan. Apalagi orangtuanya juga tidak merestui," ketus jawabmu membuatku terkesima.

"Kalau kamu beneran suka sama dia, perjuangkan, bagaimana caranya agar orangtuanya bisa merestui kalian. Kalau baru segini ujian sudah menyerah, ya percuma, cemen banget." Aku malah memanasinya,biar dia punya semangat untuk kembali mengejar cintanya.

Diam, tanpa berniat untuk membalas kata-kata yang kulontarkan.

"Kamu sendiri, apa sudah ada yang di sukai?" Makjleb pertanyaan itu membuatku terdiam. Aduh, kenapa menanyakan hal itu padaku, sih. 

"Woii, malah diam." Dia malah sengaja mencubitku. Apa dia tidak tahu, lenganku yang dicubit tapi hatiku yang jumpalitan.

"Ada sih, tapi...." Belum selesai aku bicara dia sudah menyela.

"Siapa? Kenapa tidak mengenalkan aku padanya! Orang mana? Kerja dimana?" Cecarmu membuatku menatap bingung.

"Aku kan belum selesai, dodol," rutukku kesal.

"Oh ya, sudah. Jadi siapa?" Ulangnya

"Ya, adalah, aku suka dia, tapi  tidak tahu dia suka aku atau tidak." Jawabku pelan. Inginnya kubilang," Aku itu suka kamu, tapi kamu nggak pernah nyadar," cuma bisa jawab dalam hati.

"Siapa orangnya? Biar nanti aku bantu!"

"Nggak usah, aku sudah cukup senang mengaguminya dari jauh."

"Nanti di ambil orang!"

"Biar saja, tidak apa-apa, asal dia bahagia, aku sudah senang kok."

"Aneh." Tatapnya tajam ke manik mataku.

"Apanya yang aneh, aku tidak mau berharap lebih. Cukup melihat dia bahagia saja sudah membuatku senang. Bukankah mencintai tidak harus memiliki? Aku hanya bisa berdoa dimana pun dan dengan siapapun dia berjodoh kebahagiaan akan selalu menyertainya." 

"Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia bahagia, siapa tahu kalian punya perasaan yang sama!" 

"Jangan suka berandai-andai, kalau memang dia jodohku insyaallah pasti nanti akan bertemu jalannya untuk bersama."

"Sekarang ini tidaklah penting perasaanku, gimana kamu itu, loh. Masih ada kesempatan buat bersatu, sebelum diambil orang, nanti kamu menyesal."

"Sudah, nggak usah bahas dia lagi. Aku sudah yakin untuk tidak lagi memperjuangkan dirinya. Berjuang itu sama-sama kalau sendirian sama juga bohong."

Kalau dia sudah bicara seperti itu, aku bisa apa. Bukan wewenangku untuk mencampuri terlalu dalam masalah pribadinya. 

Kami kembali terdiam dengan pikiran masing-masing. Dia sibuk menatap ponselnya begitupun aku. Diam, yang membuat hatiku ngilu. Dia dekat namun sayang tak dapat ku gapai. Hanya menjadi teman tempat berbagi cerita saja. Sedih, sudah pasti. Namun aku bisa apa?

Saat kumandang azan Dzuhur terdengar barulah dia beranjak pergi. Dan aku kembali sibuk dengan pikiranku sendiri. Semua masih tentang dirinya, andai bisa jujur mengungkapkan rasa. 

***

(Nanti ikut jalan-jalan, kita konvoi rame-rame. Kamu siap-siap, bentar lagi ku jemput)

Pesannya masuk di ponselku pagi tadi saat aku sedang rebahan sambil membaca buku.

(Kemana?)

(Ya, jalan. Nggak usah banyak tanya. Pokoknya sekarang kamu siap-siap, pukul 10.00 wib  aku nyampe di rumahmu)

What, manusia satu ini lagi-lagi membuatku bingung. Melirik jam di dinding, sekarang saja sudah pukul 09.40 wib, 20 menit dia memberi waktu untuk bersiap. Terburu-buru aku menyambar handuk yang tergantung dan berlari ke kamar mandi. Jangan sampai dia datang aku belum bersiap, aku paling tidak suka ditunggu. Mandi dengan terburu-buru itu tidak enak sekali, biasanya aku santai di kamar mandi, ini 10 menit sudah lumayan, rekor baru dalam hidupku.

10 menit berikutnya kuhabiskan memilih kostum dan berdandan. Asal nempel bedak dan lipstik di wajah sudah alhamdulilah, terakhir memilih hijab yang sewarna dengan pakaian yang ku kenakan. Selesai juga akhirnya.

( Aku sudah di depan, buruan)

Aduh, ini orang kok cepat banget nyampenya. Mana dari tadi mencari sandal belum ketemu. Asal aja deh yang penting aku jalan nggak nyeker kayak ayam.

( Oke) sambil berlari kecil ke depan jalan aku membalas pesannya. 

"Lama banget," gerutunya saat aku sampai. Dia tidak tahu napasku sudah ngos ngosan dari tadi disuruh buru-buru.

"Cerewet, yang penting kan aku sudah disini. Lagian kamu juga salah, ngasih kabar dadakan. Ini kan hari aku libur dan bersantai."

" Makanya aku ajak jalan karena aku tahu hari ini kamu libur, udah buruan naik. Teman-teman yang lain sudah pada jalan duluan, kelamaan nunggu kamu dandan."

Aku langsung duduk diboncengan motornya, kami mampir di warung makan pinggir jalan untuk membeli bekal makan siang dan air minum. Lalu melanjutkan perjalanan kembali. 

"Jangan tidur," serunya membiarkan lamunanku di sepanjang jalan.

"Aku tidak tidur, hanya sedang mengagumi ciptaan Tuhan saja."seruku balik.

Tuhan, andai Engkau izinkan aku meminta, bolehkah aku meminta seseorang seperti dia untuk menjadi jodohku. Seseorang yang memiliki perhatian dan rasa sayang seperti yang dia miliki. Aku tidak akan meminta dia menjadi jodohku. Karena aku sadar siapa diriku, dia dan aku sangat jauh berbeda, dia laksana bulan sementara aku hanyalah pungguk. Pertemukan dia dengan jodoh yang sepadan ya Allah.

"Jangan tidur," teriaknya membuyarkan doa yang kupanjatkan.

 "Sudah aku bilang, aku nggak tidur, Bambang!" Seruku sambil memukul pundaknya. Ini orang kok bikin kesal terus, padahal aku sudah berdoa yang baik-baik untuk dirinya.

" Makanya bersuara, biar aku tahu kalau kamu nggak tidur! Lagian sejak kapan namaku berubah jadi Bambang? Seenaknya ganti-ganti nama orang." 

"Iya...iya, maaf ya sayang, namamu itu paling bagus deh!" Seruku asal.

Mendadak, dia mengerem membuat kepalaku terbentur kepalanya.

"Kamu bilang apa tadi?"

"Apaan? Udah buruan, panas nih. Perjalanan masih jauh, ya?" Tanyaku mengalihkan pertanyaannya.

Selamat, untung saja dia tidak mendengar. Kalau tidak, habislah aku. Dasar mulut kok nggak bisa di rem asal sebut saja. Malunya itu yang nggak tahan.

Singgah di masjid yang kami lewati untuk melaksanakan ibadah salat dhuhur, baru setelah itu melanjutkan perjalanan.

Akhirnya setelah perjalanan panjang yang kami lalui tadi, sampai juga di tempat tujuan. Wah, pemandangan indah yang nampak di depan mata mengalihkan semua perhatianku. Turun dari motor aku langsung saja jeprat jepret foto. 

"Nanti lagi foto-fotonya, sudah siang, ini waktunya makan siang!" Panggilannya membuat kami yang sedang berfoto ria menghentikan kegiatan.

Membentangkan tikar yang dibawa dari rumah sebagai alas duduk untuk beristirahat dan makan siang. Menikmati makan siang di alam terbuka, ini sungguh sangat menyenangkan. Aku seakan kembali ke masa kecil hingga tanpa sadar tersenyum sendiri.

"Melamun lagi, sepertinya sudah menjadi bagian hobimu, ya!"

"Kebiasaan suka mengganggu kesenangan orang,"cibirku dengan mimik wajah pura-pura galak.

Kami menyantap makanan sambil bercerita membahas semua hal. Inginnya setelah makan langsung melanjutkan foto-foto. Tapi demi melihat teman-teman yang lain masih lesehan istirahat tentu saja aku jadi tak enak hati untuk beranjak. Akhirnya ikut duduk sandaran di batang pohon yang ada di belakang tubuhku. Perut yang sudah kenyang lalu ditiup angin sepoi-sepoi malah membuatku mengantuk, akhirnya tanpa sadar mata pun terpejam. Entah berapa lama aku tertidur, terbangun karena gangguan dari semut-semut kecil yang menggigit tanganku. 

"Nyenyak sekali tidurmu, apa semalam kamu ikut ronda malam," sapanya saat mataku terbuka. Sepertinya tinggal kami berdua disini, aku yang tertidur sambil duduk bersandar sementara dia telentang di tikar sambil menatap langit yang cerah.

"Teman-teman yang lain pada kemana?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya.

"Mereka disana, sedang mengambil foto dan melihat orang-orang yang baru saja pulang mencari ikan dan udang di sungai, "jawabnya panjang menjelaskan.

" Kamu kenapa tidak ikut?"

"Kalau aku ikut lalu siapa yang menjagamu disini, Markonah! Ditinggal sendiri nanti malah kamu diseruduk sapi," jelasnya sambil menunjuk kawanan sapi yang sedang merumput di ujung sana.

"Makasih, kamu kok so sweet banget sih, makin sayang deh aku,"ucapku pelan.

"Makanya buruan cari pasangan, biar aku nggak repot tiap kali pergi harus menjagamu. Cari yang seperti aku, setia, baik, ramah, penyayang, tidak pelit, dan...!" Mulutnya mulai bawel.

"Iya, nanti aku cari yang seperti kamu, kalau tidak dapat nanti aku sama kamu saja, ya!" Candaku.

" Ogah, aku sama kamu. Kamu cerewet, banyak makan, suka melamun, suka nggak nyambung kalau di ajak ngobrol, terus...,"

"Ya, sudah. Aku doakan kamu jomblo seumur hidup biar kita impas, sama-sama nggak punya pasangan," balasku cepat.

" Ayo, kita kesana, nyusul yang lain, Yook!" Ajakku smabil berdiri.

Kami pun mulai membaur dengan teman-teman yang lain. Mengabadikan pemandangan yang tersaji di depan mata. Aku sempat mengabadikan beberapa gayanya saat mengambil foto. Aku akan menyimpannya sebagai kenangan sebuah perjalanan.

Setelah puas menikmati keindahan alam, galeri pun telah banyak menyimpan foto-foto diri berlatar pemandangan alam. Waktunya kembali pulang. Seperti tadi pagi saat pergi, pulang pun kami konvoi rame-rame, bedanya kalau perginya masih saling tunggu saat pulang kami mulai memacu kendaraan menuju rumah masing-masing. Tentu saja, aku masih tetap satu motor dengannya karena dia yang harus mengantarkan aku pulang.

"Thanks, udah bawa aku jalan-jalan." 

"Biasa aja, lain waktu aku ajak jalan ke tempat yang lebih jauh, nanti mau nanya teman-teman dulu, mau jalan kemana lagi setelah ini."

"Kita jalan ke pelaminan, yook,"candaku padanya.

"Becanda terus, udah aku pulang dulu, ya. Sampai ketemu besok!" Serunya lalu mulai mengendarai motor menjauh.

Padahal aku  ngomongnya serius, loh. Dasar nggak peka, biasa di ajak bercanda jadi saat aku bicara serius pasti di anggap gurauan semata.

***

Waktu seakan cepat sekali berlalu, sementara aku masih saja terikat oleh sebuah kenangan manis saat bersamamu. Kini kamu semakin sibuk, tak ada lagi waktu untuk bersamaku. Mungkin pula saat ini kamu sudah menemukan tambatan hati, sementara aku disini masih setia dalam sepi. Aku tidak lagi dibutuhkan walau hanya sekedar teman untuk berbagi cerita. Pesan yang kukirim tak pernah lagi berbalas, candamu tak pernah lagi menyemarakkan hari-hariku. Benar-benar merasa sendirian.

Aku rindu, masih saja ku eja kata itu dalam hati. Berharap setelah mengucap kata, sakit ini akan terlerai. Memandang fotomu yang sedang tersenyum, mata ini telah basah tanpa kusadari. Ya Allah, sesakit ini mencintai seseorang tanpa dia menyadari. 

Tuhan, aku mohon berikan dia kebahagiaan walau aku tak lagi bisa melihat kebahagiaannya. Hapuskan rasa cinta ini agar saat kelak kami bertemu lagi, aku masih dapat memandangnya sebagai seorang sahabat. Jangan biarkan cinta ini menghancurkan bangunan persahabatan kami. 

Pur, sesakit ini ternyata mencintaimu.

Prabumulih, 31 Januari 2024



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Terjebak di gurun tandus

Dear Diary

Writing camp: Empat Lawang, Tebingtinggi