Ada yang datang kepada kita membawa rejeki, doa, dan harapan. Ada pula yang datang hanya sekedar untuk berbasa-basi. Bukankah begitu adanya kehidupan ini berjalan.
Seperti yang saya alami siang ini saat sedang menunggu datangnya pembeli. Tiba-tiba datang seorang perempuan yang tidak saya kenal dengan sikap SKSD ( sok kenal sok dekat)sebagai seorang pedagang yang ramah saya pun menawarkan barang yang saya jual kepadanya.
"Hallo bestie, masih jualan ya! Berapa sekarang harganya?"
"Kalo sekarang harganya Rp 12.000,-. Berapa bungkus, Mbak?"
"Nanti saja, kita ngobrol dulu lah sebentar. Coba awal jualan dulu berapa harganya per bungkus?"
"Kalau dulu pertama saya gantiin mamak jualan sih harganya masih murah. Jaman itu lupa syaa tahun berapa saya jual satu bungkus masih harga Rp 5.500,- ."
"Wow, itu sudah berapa tahun ya!"
"Harga segitu mah saat harga barang belum melonjak tinggi seperti saat ini, Mbak. Jangan dibandingkan sekian puluh tahun lalu dengan sekarang."
Dalam hati, "ah ini gaya-gayanya gak bakal beli, cuma wawancara atau survey pasar saja."
Kami masih duduk berbincang saat seorang perempuan datang mendekat dan minta dibungkuskan satu porsi dagangan saya.
"Hei apa kabar, masih tinggal di komplek ya? Lama kita gak ketemu ya!"
Perempuan pertama yang sedari tadi berbincang-bincang dengan saya menyapa perempuan kedua yang baru datang
" Siapa ya?" Ekspresi bingung terlihat jelas di wajah perempuan kedua ini.
(Nah sepertinya mau SKSD lagi nih)
"Masa lupa, kita kan dulu satu sekolah di SMA Negeri 2! Malah kita pernah satu kelas loh!"
Lagi-lagi, perempuan pertama ngotot kalau mereka saling kenal.
" Mbak kayaknya salah orang, saya nggak pernah tinggal di komplek. SMA saya pun bukan di SMA Negeri 2 . Saya sekolahnya satu kelas dengan adik Mbak ini," jawabnya sambil menunjuk ke arah saya.
" Oh, ya. Adik saya yang mana?"
"Itu Mbak, saya satu kelas sama Kemas." Jawabnya lugas.
"Kemas Achmadi atau Kemas Abdullah?"
Karena saya sendiri punya dua adik yang memakai gelar Kemas untuk lebih pasti saya sebutkan nama lengkap mereka berdua.
"Lupa saya, Mbak. Tapi namanya Kemas," jawabnya malu.
"Kemarin sekolahnya di mana, Dek?"
"SMK PGRI 1, Mbak."
"Oh berarti sekelas sama adik saya, Kemas Achmadi dan Novi Anti Fitri, ya!" Ujar saya membenarkan.
Karena hanya satu Kemas yang menyelesaikan pendidikan menengah atasnya disini sementara satu Kemas lainnya menyelesaikan pendidikan menengah atas di kota lain.
" Iya bener, Mbak."
" Tapi kamu beneran temen aku sekolah loh," perempuan pertama masih tetep ngeyel menyebutkan perempuan kedua sebagai temannya.
"Mungkin hanya mirip saja. Bukankah konon katanya kita punya 7 kembaran lahir kedua ini. Mungkin saja teman Mbak ya yang satunya itu yang wajahnya mirip dengan Adik ini." Jelasku agar pembicaraan mengenai pertemanan ini kelar.
" Ya sudahlah kalau begitu, saya mau lanjut jalan dulu," ujar perempuan pertama sambil berlalu dari tempatku.
Nah kan akhirnya nggak jadi beli diaπ€£. Atau mungkin niatnya memang sedari awal hanya ingin numpang duduk dan mencari teman bercerita saja.
Tapi apapun dan siapapun yang datang mampir kesini, terima kasih sudah mau mampir berbagi cerita ππ».
Dan yang namanya disebut di atas, mohon maaf ya tadi Mbak lupa tanya nama teman kalian ituππ». Semoga di lain waktu dia mampir lagi insyaallah nanti ditanyain namanya.
Demikianlah cerita siang ini. Terima kasih yang udah baca π₯°.
Prabumulih, Agustus 2026
Dibawah teriknya π₯ yang menyilaukan mata.
Komentar
Posting Komentar